Antena TV Roboh Menimpa Kabel PLN Berujung Petaka, Tiga Warga Bandungharjo Alami Luka Bakar Berat hingga Tangan Diamputasi

Antena TV Roboh Menimpa Kabel PLN Berujung Petaka, Tiga Warga Bandungharjo Alami Luka Bakar Berat hingga Tangan Diamputasi

TOROH, GROBOGANTODAY.ID – Robohnya antena televisi yang diduga menimpa kabel listrik milik PLN berujung petaka bagi tiga warga Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Akibat tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, ketiganya mengalami luka bakar berat. Bahkan, salah satu korban harus kehilangan tangan kanannya akibat amputasi.

 

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada 23 Juni 2026, saat hujan lebat mengguyur wilayah setempat pada sore hari. Tiga korban yakni Marno (73), istrinya Suharti (65), serta anak mereka, Endang Setyowati (47).

 

Kejadian bermula ketika Marno hendak mandi. Saat melintas di depan televisi, ia tiba-tiba terpental disertai suara ledakan.

 

Tak berapa lama, Suharti masuk rumah untuk mandi. Namun, saat melintas di depan televisi ia juga terpental. Ia mengalami luka bakar cukup parah, terutama pada tangan kanannya.

 

“Saya tak sadarkan diri, tergeletak di lantai. Sedangkan suami saya tergeletak diatas kasur,” kata Suharti.

 

Musibah serupa juga menimpa Endang Setyowati, anak pasangan tersebut yang tinggal tak jauh dari rumah korban.

 

Mendengar suara minta tolong dari orang tuanya, Endang bergegas mendatangi rumah mereka. Namun, saat berusaha melihat kondisi kedua orang tuanya, ia justru ikut tersengat listrik bertegangan tinggi.

 

“Listriknya kan sudah dimatikan. Namun ada api diatas tv, tepatnya di set top box. Belum sampai, saya terpental bersama cucu yang saya gendong. Beruntung cucu saya selamat,” ungkap Endang.

 

Akibat kejadian itu, Endang mengalami luka bakar sangat parah hingga 100 persen pada tangan kanannya. Kondisi tersebut mengharuskannya menjalani amputasi tangan kanan dan tiga kali operasi.

 

Aliran listrik bertegangan tinggi yang masuk ke dalam rumah korban diduga berasal dari antena televisi yang roboh dan menimpa kabel listrik milik PLN.

 

Kabel listrik tersebut disebut dalam kondisi terbuka tanpa pelindung dan melintas di atas rumah korban dengan posisi kendur.

 

“Saya kira setelah listrik dimatikan sudah aman. Ternyata aliran listrik berasal dari kabel antena yang bersinggungan dengan kabel PLN,” katanya.

 

Tiga bulan setelah kejadian, ketiga korban masih harus menjalani perawatan luka secara rutin. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit.

 

Di tengah perjuangan tersebut, keluarga korban berharap mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak untuk membantu meringankan beban biaya pengobatan.

 

“Saat di rumah sakit dicover bansos dan BPJS. Tapi untuk perawatan selama 3 bulan lebih sudah habis Rp 80 juta,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *